Definisi dari literasi bukan hanya sekadar sebagai kemampuan
membaca dan menulis. Dalam konteks kontemporer, literasi dipandang sebagai
sebuah kemampuan untuk memahami, menginterpretasi, dan juga berinteraksi secara
kritis dengan berbagai bentuk informasi dan wacana yang ada di sekitar kita. Di
Indonesia, tingkat literasi masih menjadi tantangan besar. Programme for
International Student Assessment (PISA), Indonesia masih berada di
peringkat bawah dalam kemampuan membaca dibandingkan negara-negara lain. Pada
tahun 2022, skor literasi membaca Indonesia adalah 359 poin, hal ini mengalami
penurunan 12 skor dari tahun 2018. Sehingga kondisi ini memunculkan pertanyaan
mendasar, “Apakah rendahnya tingkat literasi dipengaruhi oleh faktor bakat dan
minat individual ataukah disebabkan oleh budaya masyarakat yang belum
mendukung?”
Tulisan ini berpendapat bahwa literasi adalah hasil dari
interaksi kompleks antara bakat minat individual dan juga budaya masyarakat.
Meskipun seseorang memiliki bakat ataupun kecenderungan alami terhadap
aktivitas literasi, tanpa dukungan lingkungan budaya masyarakat atau dalam hal
ini pembiasaan literasi, maka bakat tersebut akan sulit berkembang secara
optimal. Sebaliknya, pembiasaan budaya literasi yang kuat dalam masyarakat akan
memunculkan dan menumbuhkan minat individu yang mungkin sebelumnya tak nampak.
Hal ini sejalan dengan narasi dalam buku yang berjudul “Semua Murid Semua Guru”
karya Najelaa Shihab, pada halaman 34 menyebutkan bahwa tidak ada anak yang
terlahir dengan kecenderungan tidak suka membaca, atau seseorang yang tidak
bisa meningkatkan kompetensinya dalam literasi, karena literasi berkaitan dengan banyak dimensi yang bisa
ditumbuhkan sepanjang hayat.
Literasi sebagai Produk Bakat dan Minat Individual
Setiap individu dilahirkan dengan memiliki kecenderungan dan
kemampuan masing-masing. Beberapa anak akan menunjukkan ketertarikan terhadap
buku dan aktivitas membaca sejak dini. Mereka memiliki kemampuan alamiah untuk
memproses informasi tekstual dengan lebih efektif dan efisien. Kemampuan ini
sering dikaitkan dengan bakat kognitif tertentu yang memudahkan seseorang dalam
mengolah informasi secara tertulis. Selain bakat, minat juga memegang peranan
penting dalam pengembangan literasi. Misalnya, seorang anak yang memiliki
ketertarikan mendalam terhadap cerita petualangan akan semakin termotivasi
untuk membaca lebih banyak buku dengan tema tersebut. Motivasi intrinsik ini
akan mendorong anak untuk terus mengembangkan kemampuan literasi tanpa paksaan
dari pihak luar.
Literasi sebagai Hasil Budaya Masyarakat
Di sisi lain, budaya masyarakat memiliki peran yang tidak
kalah penting dalam membentuk tingkat literasi. Lingkungan keluarga merupakan
faktor pertama dan utama dalam menumbuhkan kebiasaan literasi. Keterlibatan
orang tua dalam aktivitas literasi anak di rumah adalah faktor kunci dalam menumbuhkembangkan
budaya literasi membaca yang kuat. Dengan menciptakan lingkungan yang mendukung
literasi membaca, memberikan contoh positif, dan terlibat aktif dalam kegiatan
membaca dan menulis, orang tua tidak hanya membantu anak mengembangkan keterampilan
literasi dasar, tetapi juga memperkuat kecintaan anak terhadap membaca dan
belajar.
Kebijakan pemerintah dan program literasi nasional secara
lebih luas juga berkontribusi terhadap budaya literasi masyarakat.
Negara-negara dengan tingkat literasi tinggi seperti Finlandia, Singapura, dan
Korea Selatan memiliki kebijakan pendidikan yang memprioritaskan pengembangan
literasi dan didukung oleh alokasi anggaran yang memadai. Mereka juga memiliki
infrastruktur pendukung seperti perpustakaan umum yang tersebar luas dan mudah
diakses oleh masyarakat.
Perbandingan antar negara memberikan bukti konkret bagaimana
budaya masyarakat memengaruhi tingkat literasi. Finlandia, yang secara
konsisten menempati peringkat atas dalam tes literasi internasional, memiliki
budaya yang sangat menghargai pendidikan dan membaca. Perpustakaan umum di
Finlandia tidak hanya berfungsi sebagai tempat peminjaman buku tetapi juga
sebagai pusat aktivitas komunitas. Demikian pula di Jepang, budaya membaca di
tempat umum seperti kereta api dan taman menjadi pemandangan biasa yang
mencerminkan bagaimana literasi telah menjadi bagian integral dari kehidupan
sehari-hari.
Tantangan dan Solusi
Dalam pengembangan literasi berbasis bakat minat, tantangan
utama adalah mengidentifikasi dan mengakomodasi keragaman minat dan gaya
belajar. Tidak semua individu tertarik pada jenis bacaan yang sama atau belajar
dengan cara yang sama. Solusinya adalah menyediakan berbagai bahan bacaan dan
pendekatan pembelajaran yang dapat mengakomodasi perbedaan tersebut.
Dari sisi budaya masyarakat, tantangan terbesarnya adalah
mengubah paradigma dan kebiasaan yang sudah tertanam lama. Di era digital,
budaya menonton dan mengonsumsi konten audio visual lebih dominan dibandingkan
budaya membaca. Solusinya adalah mengintegrasikan literasi digital dalam
program pengembangan literasi dengan memanfaatkan teknologi untuk menarik minat
generasi muda terhadap aktivitas literasi.
Maka literasi bukanlah semata-mata produk dari bakat dan
minat individual, tetapi juga tidak sepenuhnya ditentukan oleh budaya
masyarakat. Kedua faktor ini saling berinteraksi dan memengaruhi dalam proses
pengembangan literasi. Strategi pengembangan literasi yang efektif perlu
mempertimbangkan kedua aspek ini secara seimbang. Pada akhirnya, literasi bukan
sekadar keterampilan teknis tetapi merupakan fondasi bagi pengembangan individu
dan kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, mengembangkan
literasi, baik melalui pendekatan bakat minat maupun budaya masyarakat,
merupakan investasi jangka panjang yang akan berdampak pada kualitas sumber
daya manusia dan pembangunan bangsa.

Komentar
Posting Komentar