Langsung ke konten utama

Rahasia di Balik Bakat

Ilustrasi free throw (Pinterest) 

"Aku telah gagal lebih dari 9.000 kali dalam karierku. Aku kalah di hampir 300 pertandingan. Sebanyak 26 kali, aku dipercaya untuk mengambil tembakan penentu kemenangan… dan meleset. Aku gagal lagi dan lagi dalam hidupku. Dan itulah sebabnya aku sukses.” — Michael Jordan 

Pernah nggak sih merasa kagum sama orang yang kelihatannya jago dalam segala hal? Dari main musik, olahraga, sampai berprestasi di sekolah atau kerja. Kayaknya, mereka punya bakat bawaan yang bikin semuanya jadi gampang. Tapi, menurut Daniel Coyle dalam bukunya The Talent Code, itu bukan karena mereka dilahirkan dengan keistimewaan tertentu. Keahlian bukanlah sesuatu yang udah ada dari sananya—itu terbentuk dari latihan yang fokus, motivasi yang kuat, dan bimbingan yang tepat.

Latihan yang Bikin Kita Jago: Deep Practice

Kabar baiknya, ini berarti siapa pun bisa belajar dan jadi ahli di bidang apa pun. Rahasianya? Deep practice. Bukan sekadar latihan biasa, tapi latihan yang benar-benar bikin otak berkembang. 

Bayangin kita lagi belajar hal baru, terus susah banget. Biasanya, rasanya pasti pengen nyerah, kan? Tapi, kalau kita mau jago, justru kita harus terbiasa sama kesalahan. Setiap kali kita salah dan dan mencoba untum memperbaikinya, otak membentuk jalur baru yang bikin kita makin mahir. Prinsipnya mirip kayak nge-gym buat otak, semakin sering latihan dengan cara yang benar, semakin kuat kemampuan kita. 

Motivasi: Percikan Api yang Harus Selalu Dijaga

Tapi latihan aja nggak cukup. Butuh sesuatu yang bikin semangat tetap menyala. Pernah merasa super termotivasi setelah lihat seseorang sukses di bidang yang kita impikan? Itu namanya ignition—percikan api yang bikin kita pengen langsung action. 

Kadang, inspirasi datang dari nonton film, lihat atlet favorit kita juara, atau denger kisah sukses seseorang. Tapi, yang lebih penting dari sekadar terinspirasi adalah gimana caranya supaya semangat itu gak gampang padam. Sama kayak api unggun, kalau nggak terus dikasih kayu, lama-lama bakal mati. Jadi, teruslah kasih "bahan bakar" buat semangatmu—entah itu dengan latihan rutin, cari tantangan baru, atau ingat lagi alasan kenapa dulu mulai. 

Mentor: Pemandu yang Bikin Perjalanan Lebih Mudah

Kita bisa belajar sendiri, tapi bakal lebih cepet kalau ada yang membimbing, dah. Bayangin lagi naik gunung yang terjal, pasti lebih enak kalau ada orang yang udah pernah lewat jalur itu duluan dan bisa kasih arahan. 

Mentor itu bisa siapa aja—guru, pelatih, atau bahkan teman yang lebih berpengalaman. Mereka bukan cuma kasih saran, tapi juga ngerti kapan harus nyemangatin dan kapan harus kasih kritik biar kita makin berkembang. Punya mentor itu kayak punya GPS buat sukses—nggak harus nebak-nebak sendiri jalannya. 

Mulai dari Langkah Kecil, Hasilnya Bakal Besar

Nggak ada orang yang langsung jago dalam semalam. Semua atlet top, musisi hebat, atau orang sukses lainnya juga mulai dari langkah kecil yang mereka ulang terus-menerus. 

Jadi, mau jadi ahli di bidang apa pun? Mulai aja dulu. Pilih satu hal yang pengen dikuasai, terus latihan dengan cara yang benar. Nikmati prosesnya, jangan buru-buru pengen cepat jago. Kalau bisa, cari mentor buat bantuin di tengah perjalanan. 

Ingat, bakat itu bukan sesuatu yang diwariskan, tapi dibentuk. Dengan latihan yang tepat, motivasi yang kuat, dan bimbingan yang baik, siapa pun bisa mencapai hal luar biasa. Jadi, yuk mulai sekarang. Jalan pelan-pelan nggak masalah, yang penting tetap maju. Siapa tahu, usaha kecil yang dilakukan hari ini bakal jadi sesuatu yang luar biasa di masa depan!


Penulis: Lukman Al Hakim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMM UIN Walisongo Rayakan Milad ke-61: Momentum Refleksi dan Komitmen Organisasi

doc. pribadi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Walisongo Semarang memperingati Milad ke-61 dengan menggelar potong tumpeng di Masjid At-Taqwa, Wates, pada Kamis, 13 Maret 2025. Acara ini menjadi momentum penting bagi para kader IMM untuk melakukan refleksi, evaluasi capaian, serta berkomitmen meningkatkan kualitas organisasi. Para kader IMM mengawali rangkaian acara dengan buka puasa bersama, menikmati aneka takjil dan hidangan soto yang telah disiapkan oleh pengurus Masjid At-Taqwa. Usai berbuka, mereka melaksanakan salat Magrib berjamaah di masjid tersebut. Peringatan Milad IMM ke-61 kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Suprapto, alumni IMM UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutannya, beliau berbagi pengalaman berharga semasa menjadi kader IMM ketika masih berkuliah. Suprapto juga menekankan pentingnya merawat dan terus meningkatkan kualitas organisasi. “Hidup-hidupilah IMM dan carilah pasangan hidup di IMM,”  ujar beliau, yang sontak mengundang tawa dan antusiasme...

PK IMM Al-Faruqi Tebar Kebaikan di Jalan dengan Bataro

doc. medkom al-faruqi Bidang Hikmah dan TKK Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Al-Faruqi menggelar aksi sosial bertajuk Bataro (Bagi-bagi Takjil On The Road) hari Sabtu, 8 Maret 2025. Berlokasi di jalan pertigaan arah Beringin, mereka membagikan lebih dari 30 bungkus takjil kepada para pengguna jalan yang melintas.  Takjil yang dibagikan berisi kurma, es kuwut, dan tahu bakso, menu sederhana namun penuh kehangatan. Aksi ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi wujud kepedulian dalam memuliakan bulan Ramadan. Tak heran, kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat yang melintas.   Ketua Bidang Hikmah PK IMM Al-Faruqi, Aisyatul Ma’rufah, berharap semangat berbagi tidak hanya berhenti di bulan Ramadan, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selaras dengan salah satu prinsip dasar IMM, yaitu Humanitas, yang menanamkan nilai kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama.   Senada dengan itu, Ketua Umum PK IMM ...

Literasi: Bakat Minat Ataukah Budaya Masyarakat?

Ilustrasi literasi (Pinterest)  Definisi dari literasi bukan hanya sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks kontemporer, literasi dipandang sebagai sebuah kemampuan untuk memahami, menginterpretasi, dan juga berinteraksi secara kritis dengan berbagai bentuk informasi dan wacana yang ada di sekitar kita. Di Indonesia, tingkat literasi masih menjadi tantangan besar. Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam kemampuan membaca dibandingkan negara-negara lain. Pada tahun 2022, skor literasi membaca Indonesia adalah 359 poin, hal ini mengalami penurunan 12 skor dari tahun 2018. Sehingga kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar, “Apakah rendahnya tingkat literasi dipengaruhi oleh faktor bakat dan minat individual ataukah disebabkan oleh budaya masyarakat yang belum mendukung?” Tulisan ini berpendapat bahwa literasi adalah hasil dari interaksi kompleks antara bakat minat individual dan juga budaya masyar...