Langsung ke konten utama

Hadiri Rakorcab PC IMM Kota Semarang, Kiai Cepu Berikan Pesan ke Kader Muhammadiyah

                                         
doc. pribadi

Semarang 26 April 2025 — Pada acara Rakorcab PC IMM Kota Semarang, Kiai Husen, Ph.D., atau yang lebih dikenal dengan Kiai Cepu, menyampaikan sebuah materi penting tentang Fikih Kebudayaan. Beliau membuka materinya dengan merujuk pada Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal 4 Ayat 1, yang menegaskan bahwa Muhammadiyah berdakwah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Namun, Kiai Husen mengingatkan, bahwa dalam berdakwah, pendekatan yang digunakan harus tepat. Beliau menegaskan bahwa berdakwah dengan pendekatan ilmu fikih semata adalah keliru. Sebaliknya, pendekatan yang lebih tepat adalah dengan ilmu dakwah, yaitu memahami kondisi psikologis, budaya, dan kebutuhan masyarakat yang hendak diberi pencerahan.

Beliau mengilustrasikan hal ini dengan sebuah kisah nyata: Bagaimana jika seseorang pekerja diskotik yang bertanya tentang hukum bekerja di diskotik? Bila dijawab secara kaku dengan fikih, tentu jawabannya haram tetapi cara menjawab semacam itu seringkali membuat si penanya justru menolak dan tidak mau mendengarkan lagi. 

Sebaliknya, dengan pendekatan dakwah yang bijak, jawaban bisa disampaikan secara bertahap, menghargai situasi si penanya, sambil tetap membimbingnya menuju pemahaman yang benar.

Untuk memperjelas, Kiai Cepu mencontohkan kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Pada suatu waktu, Ali memimpin shalat dalam keadaan mabuk dan keliru membaca Surat Al-Kafirun. Kejadian ini menjadi sebab turunnya Surat An-Nisa ayat 43, yang melarang shalat dalam keadaan mabuk. Namun syariat Islam tidak langsung mengharamkan khamar secara mutlak.

Setelah iman umat semakin kuat, baru turun Surat Al-Baqarah ayat 219 yang memperingatkan tentang mudarat minuman keras, hingga akhirnya diturunkanlah Surat Al-Maidah ayat 90 yang secara tegas mengharamkan khamar. Begitulah tahapan dakwah Rasulullah: tidak langsung frontal, tetapi bertahap dan memperhatikan kesiapan umat.

Penekanan penting dari Kiai Husen adalah: para dai harus mengamalkan prinsip “illa bilisani qawmihi”, yakni menyampaikan dakwah dengan bahasa, budaya, dan cara komunikasi yang dipahami masyarakat. Dakwah harus menyentuh hati, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Dengan gaya penyampaian yang sangat komunikatif, Kiai Husen mengajak para kader IMM untuk tidak hanya pintar dalam fikih, tetapi juga cerdas dalam dakwah, “Dakwah adalah siasat,” tandas beliau.


Penulis: Lukman Al Hakim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno: Perempuan Muhammadiyah Penegak Kemanusiaan

Sumber: http://kupipedia.id/ Hai, sobat Al-Faruqi! Tahukah kalian tentang sosok pembela martabat perempuan yang berjasa besar dalam perjuangan Muhammadiyah dan Aisyiyah? Yuk, kita berkenalan dengan Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, tokoh masyarakat yang menginspirasi kita semua! Berdasarkan buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi (Lasa Hs., Widyastuti, Imron Nasri, dkk., hal. 276–278), Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan berpengaruh dalam sejarah Aisyiyah dan Muhammadiyah. Ia memimpin Aisyiyah selama dua periode (2000–2010) dan dikenal dengan gagasannya yang mendalam tentang posisi perempuan dalam Islam dan masyarakat. Sosok Intelektual dan Pemimpin Perempuan Muhammadiyah Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno lahir di Kauman, Yogyakarta, 24 Januari 1941. Ia berasal dari keluarga Muhammadiyah yang kuat dalam tradisi dakwah dan pendidikan. Chamamah adalah anak kedua dari empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga santri. Ayahnya, KH. Hamad ...

Jual Agama

  Created by Gemini AI Saya gemas. Kok bisa-bisanya kita ini begitu mudah termakan narasi kiai jualan agama. Hanya karena lihat kiai pakai mobil bagus, atau pegang iPhone, langsung jari-jari netizen "gatal" membuat status hujatan. Seolah-olah, kalau sudah jadi kiai, ya harus menderita. Harus melarat. Tidak boleh punya iPhone. Tidak boleh naik Alphard. Itu pikiran kuno. Jadul. Mari kita lihat Ustadz Abdul Somad (UAS). Orang ribut soal pilihan politiknya. Ia mendukung seorang calon yang tidak lebih masyhur dari petahana di Riau waktu itu. Jadi. Berkat UAS Effect. Kemudian beliau diframing: UAS jual agama demi politik. Padahal? Beliau itu meliburkan jadwal ceramahnya tiga bulan penuh. Anda tahu berapa nilai materi yang beliau relakan? Miliaran. Semua itu dikurbankan demi kontrak politik: minta dibangunkan Islamic Center, beasiswa santri, dan empat belas perjanjian politik lainnya. Tanpa minta bayaran sepeser pun. Mana ada politisi atau konsultan yang mau kerja gratisan tiga bula...

Merdeka atau Mati (?)

Spirit revolusi dalam genggaman | Created with Canva Hari ini, Indonesia genap berusia 80 tahun. Tidak lagi muda. Sebuah usia yang sudah cukup matang untuk ukuran sebuah negara. Namun, sebuah pertanyaan selalu bergaung di lubuk hati: sudahkah kita benar-benar merdeka atau sudah hampir mati? Pernah pada tahun 1945, para pemuda kita berteriak lantang: “Merdeka atau Mati!” Pekikan itu adalah pilihan yang tegas: berjuang sampai titik darah penghabisan atau tetap hidup dalam penjajahan. Tidak ada jalan tengah. Tidak ada kompromi. Semalam penulis menyimak pidato Presiden di Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). “Tingkat pengangguran paling rendah,” katanya. Semoga saja benar. Benar-benar salah. Faktanya, data yang dihimpun dari banyak sumber mengatakan bahwa pengangguran di Konoha masih tinggi, berbeda dengan yang diungkap Budan Pusat Statistik (BPS). Terasa ironis. Janji membuka 19 juta lowongan kerja, nyatanya tidak ada bukti nyata. “Satu laki-laki tersakiti, 19 juta lainny...