Seni dan budaya tidak dapat dipisahkan satu sama
lain. Keduanya berfungsi sebagai sarana ekspresi batin, representasi peradaban,
dan media penyebaran nilai-nilai sosial serta spiritual. Seni dan budaya
memiliki tempat yang sangat penting dalam perspektif Islam, termasuk
Muhammadiyah, selama tidak menyimpang dari ajaran tauhid dan akhlak mulia.
Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam tajdid
(pembaruan) yang didirikan pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan, memandang
bahwa seni dan budaya tidak sepatutnya ditolak. Sebaliknya, seni dan budaya
perlu dikaji, diarahkan, dan dimanfaatkan untuk kebaikan umat serta dakwah
Islam yang mencerahkan.
Seni dan
Budaya dalam Konteks Muhammadiyah: Sebuah Tinjauan Dasar
Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah
(PHIWM), Bab III, bagian G, yang membahas seni dan budaya, Muhammadiyah
menjelaskan secara eksplisit pandangan mereka mengenai topik tersebut:
Seni dan budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dipandang sebagai karunia Allah dan merupakan sarana penting dalam dakwah, pendidikan, dan pembangunan peradaban.
Dengan pernyataan ini, Muhammadiyah menegaskan
bahwa seni tidak hanya dipahami sebagai aspek duniawi yang berpotensi
menyesatkan, melainkan juga memiliki potensi luar biasa dalam memperkuat
pesan-pesan kebaikan, apabila dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Fungsi dan
Peran Seni dalam Islam Menurut Perspektif Muhammadiyah
1. Sarana
Dakwah dan Pendidikan
Seni dalam berbagai bentuk seperti musik, teater,
puisi, lukisan, kaligrafi, dan sastra dapat berfungsi sebagai media dakwah yang
efektif. KH. Ahmad Dahlan dikenal luas karena memanfaatkan pendekatan budaya
dan seni dalam menyampaikan ajaran Islam. Salah satu contoh yang paling
fenomenal adalah ketika beliau mengajarkan surat Al-Ma'un bukan hanya melalui
pembacaan teks, melainkan juga melalui pendekatan aksi sosial dan dramatisasi.
Dalam hal ini, beliau mengajak murid-muridnya untuk berinteraksi langsung
dengan anak-anak yatim dan masyarakat miskin.
2. Penguatan
Identitas Kultural Umat Islam
Muhammadiyah mengakui bahwa Islam hadir dalam
berbagai realitas sosial dan budaya. Berkaitan dengan hal tersebut,
Muhammadiyah mendorong pengembangan seni yang menggali akar budaya lokal,
asalkan tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan nilai-nilai keislaman.
Persyaratan
dan Batasan dalam Seni dan Budaya
Meskipun mengakui seni dan budaya sebagai anugerah Allah, Muhammadiyah menetapkan batasan yang tegas agar seni tidak dijadikan sarana kemungkaran. Beberapa batasan yang harus dipatuhi adalah sebagai berikut:
- Tidak mengandung unsur syirik atau pemujaan kepada selain Allah
- Tidak bersifat vulgar atau merangsang syahwat, seperti pornografi dan
erotisme
- Tidak mengajarkan kekerasan, kebencian, atau permusuhan
- Tidak meniru gaya hidup hedonistik dan permisif yang lazim dalam budaya
Barat sekuler
- Menjunjung tinggi nilai moral dan spiritual dalam bentuk dan
penyajiannya
Dalam Buku Ajar Kemuhammadiyahan dijelaskan bahwa
pendekatan budaya merupakan komponen penting dari strategi dakwah Muhammadiyah.
Hal ini disebabkan oleh kemampuan seni dan budaya untuk menyentuh aspek
emosional serta kolektif masyarakat secara luas, termasuk di daerah terpencil,
pedesaan, maupun di lingkungan perkotaan yang modern. Dakwah kultural ini
menciptakan ruang kreatif sekaligus membentuk identitas sosial umat Islam yang
beradab serta modern, namun tetap berpegang teguh pada akidah dan syariah.
Teladan KH.
Ahmad Dahlan dalam Pemanfaatan Budaya
Sebagai pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan
menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat diajarkan melalui pendekatan seni dan
budaya. Sebagaimana dikisahkan dalam buku "KH. Ahmad Dahlan: Sang
Pencerah," beliau dikenal sebagai pribadi yang progresif dan terbuka dalam
mendialogkan Islam dengan budaya lokal maupun modern.
Beliau juga memiliki ketertarikan yang tinggi
terhadap seni, sebagaimana terlihat dari kebiasaannya menyanyi dan memainkan
biola, serta menunjukkan keterbukaan terhadap pembaruan dalam metode dakwah.
Hal ini menjadi bukti bahwa beliau bukanlah seorang ulama konservatif,
melainkan seorang reformis yang menghargai keindahan seni sebagai sarana
penyampaian kebenaran.
Kesimpulan
Seni dan budaya, dalam perspektif Muhammadiyah,
dianggap sebagai potensi yang signifikan untuk membangun peradaban Islam yang
mencerahkan dan membebaskan. Seni yang dijiwai oleh nilai-nilai tauhid, akhlak
mulia, serta semangat pembaruan (tajdid) berperan sebagai kekuatan dakwah yang
luar biasa dalam membentuk masyarakat yang Islami.
Muhammadiyah memberikan ruang yang luas bagi
ekspresi seni, dengan syarat bahwa ekspresi tersebut tetap berada dalam bingkai
syariat dan tidak menyimpang dari tujuan ibadah. Oleh karena itu, sudah
sepatutnya para kader dan warga Muhammadiyah terus menggali, mengembangkan, dan
memanfaatkan seni sebagai media dakwah, pendidikan, dan pembangunan bangsa.
Penulis: Kader Al-Faruqi

Komentar
Posting Komentar