Langsung ke konten utama

Belajar dari Dua Pemimpin Muslim di Jantung Kota Dunia

Picture by The Times 

Sadiq Khan, pemimpin Kota London, adalah seorang muslim yang lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Amanuddin Khan, seorang sopir bus di kota metropolitan itu, pernah berpesan, "Kalau orang lain lari, kamu harus terbang!" Sebuah nasihat yang kerap dikenang sang wali kota di hadapan khalayak.

Khan adalah keturunan Pakistan. Jumlah warga keturunan Pakistan di London tidak lebih dari 3% populasi. Dengan bekal double minority sebagai muslim dan keturunan Pakistan, ia memberanikan diri maju dalam kontestasi Pemilihan Wali Kota. Lengkap dengan terpaan isu islamofobia, rasisme, dan kampanye hitam yang menyerangnya. Kini ia telah memasuki periode ketiga kepemimpinannya.

Berasal dari keluarga sopir bus, Khan kini memegang peran besar dalam menyulap ibu kota Negara Raja Charles itu. Di bawah kepemimpinannya, London semakin maju. Bus-bus kota berubah seperti kendaraan masa depan. 20% di antaranya kini bertenaga listrik. Tidak lagi mengandalkan bensin atau diesel. Transportasi ini ramah lingkungan, murah, bahkan gratis selama lima tahun. Desainnya mewah, roda-rodanya seakan tidak terlihat, membuatnya terkesan futuristis dan estetik.

Tidak berhenti di situ, kebijakan-kebijakan pro-rakyat seperti makan siang gratis untuk semua siswa sekolah dasar, hunian terjangkau, serta transportasi inklusif dan bebas polusi membuat Khan makin dicintai warganya.

Di seberang Atlantik, ada satu nama lagi: Zohran Mamdani. Seorang muslim yang kini menjabat Wali Kota New York. Pusat ekonomi dunia. Wall Street yang masyhur itu pun ada di wilayah kepemimpinannya.

Zohran lahir di Uganda dari keluarga keturunan India. Ayahnya seorang akademisi, ibunya seorang sutradara film. Masa kecilnya dihabiskan di Cape Town, sebelum pindah ke New York pada usia tujuh tahun. Meskipun kerap berpindah rumah, pijakan politiknya justru semakin kuat, berakar pada semangat keadilan sosial.

Sebelum terjun ke politik, Zohran adalah konselor anti-penggusuran. Ia membantu warga mempertahankan rumah mereka dari ancaman kehilangan tempat tinggal. Terjun langsung di akar masalah membuatnya terdorong masuk ke ranah publik. Pada 2020, ia terpilih sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York, bahkan dua kali terpilih kembali tanpa lawan.

Layaknya Khan, Zohran juga membawa identitas double minority: muslim dan keturunan Asia Selatan. Meskipun demikian, ia berani maju sebagai kandidat wali kota. Ia menjadi suara bagi pekerja, imigran, dan kaum muda.

Program kampanyenya konkret dan progresif: bus kota gratis, pembekuan sewa, pembangunan perumahan terjangkau, penitipan anak tanpa biaya, hingga pembukaan jaringan toko bahan pokok yang dikelola pemerintah.

Seperti Khan, Zohran tidak pernah canggung menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Salat, video kampanye dalam bahasa Urdu, bahkan lantang mengkritik kebijakan luar negeri yang kontroversial. Semua itu menjadi bukti bahwa ia bukan sekadar wakil satu kelompok, melainkan simbol kejujuran politik di Amerika yang majemuk.

Sadiq Khan dan Zohran Mamdani adalah bukti hidup bahwa pemimpin muslim mampu menembus batas. Khan, putra sopir bus dari Pakistan, membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukan penghalang. Dengan kebijakan progresifnya seperti bus listrik, ia tidak hanya memajukan London, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat tentang pemimpin muslim.

Di sisi lain, Zohran Mamdani di New York menunjukkan bahwa politik yang jujur dan berpihak pada keadilan sosial sangat dibutuhkan. Sebagai imigran yang tumbuh dalam keluarga beragam, ia memimpin dengan keberanian dan integritas.

Keduanya menyampaikan pesan moral yang kuat: kepemimpinan efektif dan dicintai rakyat tidak ditentukan oleh mayoritas, melainkan oleh kejujuran, integritas, dan komitmen untuk melayani semua.

Dari mereka, kita, generasi muda, bisa belajar banyak. Minoritas bukan halangan. Kelemahan bisa diubah menjadi kekuatan. Seperti pesan Rasul, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." Khairunnas anfa'uhum linnas!

Penulis: Lukman Al Hakim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMM UIN Walisongo Rayakan Milad ke-61: Momentum Refleksi dan Komitmen Organisasi

doc. pribadi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Walisongo Semarang memperingati Milad ke-61 dengan menggelar potong tumpeng di Masjid At-Taqwa, Wates, pada Kamis, 13 Maret 2025. Acara ini menjadi momentum penting bagi para kader IMM untuk melakukan refleksi, evaluasi capaian, serta berkomitmen meningkatkan kualitas organisasi. Para kader IMM mengawali rangkaian acara dengan buka puasa bersama, menikmati aneka takjil dan hidangan soto yang telah disiapkan oleh pengurus Masjid At-Taqwa. Usai berbuka, mereka melaksanakan salat Magrib berjamaah di masjid tersebut. Peringatan Milad IMM ke-61 kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Suprapto, alumni IMM UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutannya, beliau berbagi pengalaman berharga semasa menjadi kader IMM ketika masih berkuliah. Suprapto juga menekankan pentingnya merawat dan terus meningkatkan kualitas organisasi. “Hidup-hidupilah IMM dan carilah pasangan hidup di IMM,”  ujar beliau, yang sontak mengundang tawa dan antusiasme...

PK IMM Al-Faruqi Tebar Kebaikan di Jalan dengan Bataro

doc. medkom al-faruqi Bidang Hikmah dan TKK Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Al-Faruqi menggelar aksi sosial bertajuk Bataro (Bagi-bagi Takjil On The Road) hari Sabtu, 8 Maret 2025. Berlokasi di jalan pertigaan arah Beringin, mereka membagikan lebih dari 30 bungkus takjil kepada para pengguna jalan yang melintas.  Takjil yang dibagikan berisi kurma, es kuwut, dan tahu bakso, menu sederhana namun penuh kehangatan. Aksi ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi wujud kepedulian dalam memuliakan bulan Ramadan. Tak heran, kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat yang melintas.   Ketua Bidang Hikmah PK IMM Al-Faruqi, Aisyatul Ma’rufah, berharap semangat berbagi tidak hanya berhenti di bulan Ramadan, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selaras dengan salah satu prinsip dasar IMM, yaitu Humanitas, yang menanamkan nilai kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama.   Senada dengan itu, Ketua Umum PK IMM ...

Literasi: Bakat Minat Ataukah Budaya Masyarakat?

Ilustrasi literasi (Pinterest)  Definisi dari literasi bukan hanya sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks kontemporer, literasi dipandang sebagai sebuah kemampuan untuk memahami, menginterpretasi, dan juga berinteraksi secara kritis dengan berbagai bentuk informasi dan wacana yang ada di sekitar kita. Di Indonesia, tingkat literasi masih menjadi tantangan besar. Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam kemampuan membaca dibandingkan negara-negara lain. Pada tahun 2022, skor literasi membaca Indonesia adalah 359 poin, hal ini mengalami penurunan 12 skor dari tahun 2018. Sehingga kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar, “Apakah rendahnya tingkat literasi dipengaruhi oleh faktor bakat dan minat individual ataukah disebabkan oleh budaya masyarakat yang belum mendukung?” Tulisan ini berpendapat bahwa literasi adalah hasil dari interaksi kompleks antara bakat minat individual dan juga budaya masyar...