Frasa itu dimuat pada tahun 2018. Tujuh tahun yang lalu. Booming waktu itu—hingga sekarang. Banyak yang memperdebatkan, mendiskusikan, bahkan menuduh WEF sebagai biang keladi rencana ekonomi yang "bejat" itu.
Memang menarik untuk direnungkan. Frasa itu cenderung seperti sesuatu yang direncanakan secara matang. Apalagi yang mempopulerkannya adalah WEF, organisasi ekonomi yang sudah masyhur.
Jika ditarik ke belakang, sebenarnya itu adalah esai yang ditulis oleh Ida Auken pada tahun 2016, dua tahun sebelum WEF memuatnya. Menurut klaim WEF, tujuannya adalah untuk memicu diskusi mengenai perkembangan teknologi dan sharing economy. Konsep utama sharing economy: lebih mementingkan akses daripada kepemilikan. Atau dengan kata lain, kita tidak perlu memiliki sebuah barang/jasa secara permanen untuk bisa menggunakannya. Kita bisa menyewanya.
Dari esai hipotesis tentang ekonomi tahun 2030 yang ditulis wanita Denmark itulah WEF terilhami untuk menerbitkan frasa fenomenal tersebut. Lanjutan frasa itu lebih mencengangkan: "Whatever you want you'll rent and it'll be delivered by drone" (Apa pun yang kamu inginkan, kamu akan menyewanya dan akan dikirimkan oleh drone). Hal ini menegaskan bahwa ini semacam sebuah rencana yang terorganisasi. Terlebih diksi yang digunakan sudah mengarah pada hal yang lebih spesifik.
Begitu kontroversialnya frasa "You'll own nothing, and you'll be happy" hingga menimbulkan banyak orang terpecah. Ada yang melihatnya sebagai "utopia" masa depan yang efisien, ada pula yang mencapnya sebagai "distopia" yang merenggut hak kepemilikan. Dua kutub yang mencerminkan masyarakat modern: harapan akan kemajuan dan ketakutan akan kehilangan.
Frasa tersebut—dengan segala kontroversinya—sebenarnya dapat kita cari jalan tengahnya. Penulis akan mencoba menguraikannya sebagai berikut.
Solusi utama dari kontroversi ini bukan terletak pada menolak atau menerima sepenuhnya frasa tersebut. Lebih dari itu, kita harus membentuk ulang narasi dari frasa kontroversial itu.
Pertama, kita harus memandang kepemilikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai pilihan. Kita tidak harus memiliki segala hal. Kebutuhan primer-sekunder mungkin boleh kita miliki. Akan tetapi, untuk kebutuhan tersier yang jarang kita gunakan, sewa adalah pilihan yang lebih logis, ekonomis, dan efisien.
Kedua, perlu dibuat regulasi dari ekosistem "berbagi". Hal ini menjadi penting di tengah perasaan "ketakutan akan kehilangan" yang dirasakan masyarakat modern. Di sini, peran pemerintah dan organisasi dunia menjadi penting untuk menciptakan model sharing economy yang transparan, aman, dan dapat dipercaya.
Dengan demikian, frasa itu tidak lagi menjadi ramalan yang menakutkan, tetapi menjadi hipotesis yang membuka mata kita untuk memandang masa depan. Hipotesis ini mendorong kita untuk berpikir lebih jauh tentang bagaimana kita hidup di masa depan: bukan sebagai budak dari konsep "kepemilikan", bukan juga sebagai korban dari konsep "sharing economy" yang tanpa kendali, melainkan sebagai individu yang cerdas dan mampu menemukan jalan tengah mana yang terbaik untuk kehidupan kita.
Penulis: Lukman Al-Hakim

Komentar
Posting Komentar