Hari ini, Indonesia genap berusia 80 tahun. Tidak lagi muda. Sebuah usia yang sudah cukup matang untuk ukuran sebuah negara. Namun, sebuah pertanyaan selalu bergaung di lubuk hati: sudahkah kita benar-benar merdeka atau sudah hampir mati?
Pernah pada tahun 1945, para pemuda kita berteriak lantang: “Merdeka atau Mati!” Pekikan itu adalah pilihan yang tegas: berjuang sampai titik darah penghabisan atau tetap hidup dalam penjajahan. Tidak ada jalan tengah. Tidak ada kompromi.
Semalam penulis menyimak pidato Presiden di Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). “Tingkat pengangguran paling rendah,” katanya. Semoga saja benar. Benar-benar salah.
Faktanya, data yang dihimpun dari banyak sumber mengatakan bahwa pengangguran di Konoha masih tinggi, berbeda dengan yang diungkap Budan Pusat Statistik (BPS). Terasa ironis. Janji membuka 19 juta lowongan kerja, nyatanya tidak ada bukti nyata. “Satu laki-laki tersakiti, 19 juta lainnya mencari lowongan kerja,” satire salah seorang netizen.
Di sisi lain, harga kebutuhan pokok terus naik. Listrik mahal, Bahan Bakar Minyak (BBM) mahal, pajak naik, bahan makanan mahal. Rakyat kecil makin terjepit. Di pasar-pasar tradisional, para pedagang mengeluh omzet mereka menurun drastis. Kalau terus begini, terasa sulit untuk merasakan kemerdekaan seutuhnya. Bahkan, rasanya malah menuju kemunduran. “Pemerintah tidak pernah gagal kalau soal gagal,” begitu kata warga instagram.
Dulu, kemerdekaan adalah perjuangan melawan penjajah fisik. Sekarang, perjuangan kita lebih kompleks. Bukan lagi melawan tentara Belanda atau Jepang, tetapi melawan korupsi, kesenjangan ekonomi, dan ketidakadilan hukum. Penjajahan itu kini berwujud lebih halus, lebih licik. Ia menggerogoti dari dalam, memakai jubah kekuasaan, dan bersembunyi di balik janji-janji manis. Soekarno pernah berkata, “Perjuanganmu lebih berat karena harus melawan bangsa sendiri.”
Pernah seorang teman aktivis berkata kepada penulis, “Kemerdekaan itu bukan hanya soal bebas dari penjajahan. Kemerdekaan itu adalah kebebasan dari rasa takut. Bebas dari rasa takut miskin, bebas dari rasa takut diintimidasi, bebas dari rasa takut menyuarakan kebenaran.”
Nyatanya, dewasa ini masyarakat masih sering dibungkam, didiskreditkan, diintimidasi, dan dipojokkan. Itu semua merupakan cerminan dari bobroknya sistem demokrasi di Indonesia. Melawan kaidah penting demokrasi: Vox populi, vox Dei (Suara rakyat adalah suara Tuhan).
Rasanya, semangat “Merdeka atau Mati” itu kini telah luntur. Diganti dengan semangat yang lebih pragmatis, semangat “yang penting aman, yang penting tuan senang.” Naudzubillah.
Penulis hampir lupa, di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, seorang petani jagung pernah berkata kepadanya, “Mas, yang kami butuhkan bukan upacara atau pidato. Kami butuh harga pupuk yang terjangkau agar hasil panen kami bagus. Itu merdeka bagi kami.”
Di usia 80 tahun ini, mungkin saatnya kita kembali mempertanyakan makna kemerdekaan. Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Atau kita hanya hidup dalam sebuah ilusi, di mana kita bebas memilih, tetapi pilihan-pilihan itu ternyata dikendalikan bahkan direkayasa? Mungkin kita bebas berbicara, tetapi di saat yang sama, kita takut untuk berteriak lantang.
Mungkin, makna merdeka itu tidak sesederhana yang tertulis di buku sejarah. Merdeka itu sebuah proses yang berkesinambungan. Ia butuh perjuangan, butuh pengorbanan, butuh keberanian untuk mengatakan kebenaran. Pilihan itu masih ada: “Merdeka atau Mati.” Kita pilih yang mana?
Penulis: Lukman Al-Hakim

Komentar
Posting Komentar