Langsung ke konten utama

Politik Joko Tingkir

Created by ChatGPT

Alkisah, ada seorang raja bernama Joko Tingkir. Ia punya siasat yang unik untuk memikat hati rakyatnya. Konon, ia pernah melumuri telinga seekor kerbau dengan lumpur. Kerbau itu pun dilepas. Mengamuk di jalanan desa. Menabrak apa saja. Membuat warga bertanya-tanya: “Kenapa kerbau ini bisa segila itu?”

Lalu, dengan gagah berani, Joko Tingkir datang. Ia mendekati kerbau itu, mengusap telinganya, dan seketika kerbau pun tenang. Warga bersorak. Sang raja dipuji bak pahlawan. Padahal, siapa yang membuat kerbau itu ngamuk kalau bukan dirinya sendiri?

Hari ini, sebagian orang melihat politik Presiden Prabowo mirip dengan siasat Joko Tingkir. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menyebutnya sebagai “Politik Joko Tingkir”. Biarkan rakyat resah dulu. Biarkan “kerbau” mengamuk, lalu sang pemimpin hadir sebagai penyelamat.

Kita sudah melihat contohnya. Kenaikan PPN 12 persen yang nyaris jadi kenyataan. Gas 3 kilo yang sempat langka. Harga kebutuhan pokok yang mencekik rakyat kecil. Semua membuat warga bingung, gusar, bahkan marah. Namun tiba-tiba Presiden muncul seakan menjadi payung di tengah hujan deras: Menunda kenaikan pajak. Mengamankan distribusi gas. Meredam keresahan. “Simsalabim,” masalah selesai. Rakyat pun lega, lalu bertepuk tangan.

Di saat lain, strategi ini hadir dalam wujud rekonsiliasi. Ribuan narapidana mendapat amnesti. Nama-nama besar yang dulu keras menentang pemerintah pun dibebaskan. Para rival dirangkul. Oposisi dijinakkan. Pesannya jelas: Semua berada dalam genggaman. Semua tenang di bawah kendali sang pemimpin.

Dalam pidato kenegaraan, Presiden Prabowo menyebut pemerintah berhasil menyelamatkan 18,5 miliar dolar dari potensi korupsi, merebut jutaan hektar lahan ilegal, dan berjanji menindak kartel pangan hingga tambang haram. Rakyat bersorak. Rasanya rakyat sedang menonton siasat lama Joko Tingkir dengan kemasan baru: biarkan gaduh dulu, lalu datanglah sang pemimpin sebagai penyelamat.

Mungkin, selama lima tahun ke depan, kerbau itu akan terus dilumuri lumpur. Kita hanya tinggal menunggu, kapan sang raja datang dengan sapu tangan, hingga membuat rakyat kembali bertepuk tangan.

Penulis: Lukman Al-Hakim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMM UIN Walisongo Rayakan Milad ke-61: Momentum Refleksi dan Komitmen Organisasi

doc. pribadi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Walisongo Semarang memperingati Milad ke-61 dengan menggelar potong tumpeng di Masjid At-Taqwa, Wates, pada Kamis, 13 Maret 2025. Acara ini menjadi momentum penting bagi para kader IMM untuk melakukan refleksi, evaluasi capaian, serta berkomitmen meningkatkan kualitas organisasi. Para kader IMM mengawali rangkaian acara dengan buka puasa bersama, menikmati aneka takjil dan hidangan soto yang telah disiapkan oleh pengurus Masjid At-Taqwa. Usai berbuka, mereka melaksanakan salat Magrib berjamaah di masjid tersebut. Peringatan Milad IMM ke-61 kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Suprapto, alumni IMM UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutannya, beliau berbagi pengalaman berharga semasa menjadi kader IMM ketika masih berkuliah. Suprapto juga menekankan pentingnya merawat dan terus meningkatkan kualitas organisasi. “Hidup-hidupilah IMM dan carilah pasangan hidup di IMM,”  ujar beliau, yang sontak mengundang tawa dan antusiasme...

PK IMM Al-Faruqi Tebar Kebaikan di Jalan dengan Bataro

doc. medkom al-faruqi Bidang Hikmah dan TKK Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Al-Faruqi menggelar aksi sosial bertajuk Bataro (Bagi-bagi Takjil On The Road) hari Sabtu, 8 Maret 2025. Berlokasi di jalan pertigaan arah Beringin, mereka membagikan lebih dari 30 bungkus takjil kepada para pengguna jalan yang melintas.  Takjil yang dibagikan berisi kurma, es kuwut, dan tahu bakso, menu sederhana namun penuh kehangatan. Aksi ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi wujud kepedulian dalam memuliakan bulan Ramadan. Tak heran, kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat yang melintas.   Ketua Bidang Hikmah PK IMM Al-Faruqi, Aisyatul Ma’rufah, berharap semangat berbagi tidak hanya berhenti di bulan Ramadan, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selaras dengan salah satu prinsip dasar IMM, yaitu Humanitas, yang menanamkan nilai kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama.   Senada dengan itu, Ketua Umum PK IMM ...

Literasi: Bakat Minat Ataukah Budaya Masyarakat?

Ilustrasi literasi (Pinterest)  Definisi dari literasi bukan hanya sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks kontemporer, literasi dipandang sebagai sebuah kemampuan untuk memahami, menginterpretasi, dan juga berinteraksi secara kritis dengan berbagai bentuk informasi dan wacana yang ada di sekitar kita. Di Indonesia, tingkat literasi masih menjadi tantangan besar. Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam kemampuan membaca dibandingkan negara-negara lain. Pada tahun 2022, skor literasi membaca Indonesia adalah 359 poin, hal ini mengalami penurunan 12 skor dari tahun 2018. Sehingga kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar, “Apakah rendahnya tingkat literasi dipengaruhi oleh faktor bakat dan minat individual ataukah disebabkan oleh budaya masyarakat yang belum mendukung?” Tulisan ini berpendapat bahwa literasi adalah hasil dari interaksi kompleks antara bakat minat individual dan juga budaya masyar...