Langsung ke konten utama

Ide Itu Tidak Mahal

*semua narasi berasal dari video youtube channel Ferry Irwandi dengan judul "IDE ITU TIDAK MAHAL!"

Kita semua bisa sepakat bahwa ide brilian adalah hal yang bagus, tapi menurut ferry ada beberapa hal missconcept dan missleading dari cara masyarakat memahami value sebuah ide. Katakanlah nongkrong bersama teman sampai pagi, dalam diskusinya pasti muncul banyak ide, dari ide-ide yang diobrolin berapa persen ide yang terealisasikan?

Sejatinya manusia setiap hari tidak kekurangan ide brilian, kenapa bisa begitu? balik lagi karena ide itu sangat murah, tidak ada yang spesial dari ide, yang anehnya manusia sering membanggakan hal bersifat ide yang muncul tiba-tiba seolah itu bukti kecerdasan atau potensi luar biasa. Padahal kalau otak mausia dibedah secara ilmiah, kita bakal sadar bahwa ide bukan anugrah namun produk sampingan.

Dalam otak manusia terdapat jaringan yang bernama default mode network atau disingkat DMN, yaitu sebuah pabrik yang ada di dalam otak manusia. Dalam sistem otak manusia itu secara otomatis aktif seperti saat kita beraktivitas sehari-hari. DMN melahirkan imajinasi, kemungkinan posibilitas, skenario dan ide dalam kepala kita, yang dimana DMN bekerja tanpa effort. Yang artinya ide bukanlah prestasi tapi fitur bawaan yang kalian tau bahwa fitur bawaan tidak pernah mahal.

Carilah orang yang paling banyak mengganggur, paling banyak kerja, dan paling tidak melakukan apa-apa jika ingin mencari ide yang mind blowing, pasti kita akan kaget karena banyak ide yang muncul.

Dalam tulisannya Miller terkait PVC, menurut science menunjukkan bahwa berpikir abstrak tentang ide berada pada energi renda dibading kerja terstruktur. Saat DMN aktif otak sebenarnya dalam mode low-cognitive load yang dimana semua orang bisa melakukannya. Yang berat adalah ketika memecahkan masalah, menyusun struktur dan mengatur rancangan eksekusi dimana semua ini melibatkan prefrontal cortex (area otak paling demanding secara metabolik).

Hal ini menjadi lebih bermasalah karena kita dihadapkan dengan budaya masyarakat yang malas kerja, malas melakukan apapun, maunya menciptakan ide lalu dihargai orang lain, dinilai tinggi dengan ide tersebut tanpa kausalitas, tanpa mengorbankan. Pada esensinya kesempatan tidak selalu datang pda mereka yang memikirkan, tapi kepada mereka yang membuktikan, mewujudkan dan melakukan.

Ide biasa tapi dieksekusi dengan baik, sempurna itu jauh lebih baik daripada hanya ide yang luar biasa. Kalau idemu ingin dianggap mahal, do something untuk bawa ide dari dunia ideal ke dunia material. Ide baru dihargai setelah ada bukti nyata bukan? baik itu objek maupun subjeknya. Setelah ada sejarah dalam mewujudkan ide jadi kenyataan dan bisa diterima orang, barilah orang kain akan mendengarkan kamu dari tahap rencana.

Hal ini pun dibuktikan secara antropolgi, kita mundur ribuan tahun, ide merupakan bagian paling murah dari kehidupa kelompok manusia. Suku pemburu itu tidak menghargai orang yang punya ide hebat, karena yang dibutuhkan orang yang benar-benar memburu, yanng bisa membuat alat, bisa memimpin migrasi, dan orang yang meyediakan sesuatu atau orang yang provide.

Dalam tulisan Garvent dan Hill pada tahun 2009 tentang human nature, status sosial dalam masyarakat kuno itu dibangun dari kontribusi nyata, bukan dari retorika. Sederhananya, sejak zaman purba manusia tidak didesain untuk meghargai ide namun manusia menghargai hasil. Budaya modern boleh berubah tapi struktur dasarnya tidak berubah.

Lantas kenapa orang-orang terlalu memuja ide? ada beberapa hal yang Ferry cermati yaitu :

1. Soal ilusi potensial

Orang merasa punya ide = punya potensi besar. Padahal potensi tanpa eksekusi = fantasi.

2. Social reward yang salah

Lingkungan sering memberikan pujian bagi orang visioner, padahal yang susah adalah bagaimana realitas pelaksanaannya.

3. Orang merasa lebih aman punya ide daripada melakukan sesuatu yang membuat mereka punya resiko untuk menanggung kesalahan

Medsos merupakan salah satu alasan kenapa orang terlalu memuja ide, media itu adalah media penuh inspiratif tentang ide brilian, padahal 99 kerja kerasnya jarang dicritakan, hanya idenya saja. Karena itu Ferry menganggap dari dulu bahwa ide tidak mahal, ide lebih banyak dari kacang goreng menurutnya. Orang yang mempunyai dedikasi kuat dalam mewujudkan idenya, punya responsibility dalam menjalankan ide, menangging dampak dan resikonya, berani pasang badan dan berkorban untuk idenya, dan mereka yang punya kapasitas untuk mewujudkan idenya adalah orang-orang yang mahal dan juga langkah yang mahal.

Lastly, Dunia tidak berubah karena orang dengan idenya, namun berubah bagi orang yang berani bekerja, gagal, bertanggung jawab, dan yang berani membayar harga tersebut adalah mereka yang mengubah realitas.

Penulis : Aisyatul Ma'rufah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMM UIN Walisongo Rayakan Milad ke-61: Momentum Refleksi dan Komitmen Organisasi

doc. pribadi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Walisongo Semarang memperingati Milad ke-61 dengan menggelar potong tumpeng di Masjid At-Taqwa, Wates, pada Kamis, 13 Maret 2025. Acara ini menjadi momentum penting bagi para kader IMM untuk melakukan refleksi, evaluasi capaian, serta berkomitmen meningkatkan kualitas organisasi. Para kader IMM mengawali rangkaian acara dengan buka puasa bersama, menikmati aneka takjil dan hidangan soto yang telah disiapkan oleh pengurus Masjid At-Taqwa. Usai berbuka, mereka melaksanakan salat Magrib berjamaah di masjid tersebut. Peringatan Milad IMM ke-61 kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Suprapto, alumni IMM UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutannya, beliau berbagi pengalaman berharga semasa menjadi kader IMM ketika masih berkuliah. Suprapto juga menekankan pentingnya merawat dan terus meningkatkan kualitas organisasi. “Hidup-hidupilah IMM dan carilah pasangan hidup di IMM,”  ujar beliau, yang sontak mengundang tawa dan antusiasme...

PK IMM Al-Faruqi Tebar Kebaikan di Jalan dengan Bataro

doc. medkom al-faruqi Bidang Hikmah dan TKK Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Al-Faruqi menggelar aksi sosial bertajuk Bataro (Bagi-bagi Takjil On The Road) hari Sabtu, 8 Maret 2025. Berlokasi di jalan pertigaan arah Beringin, mereka membagikan lebih dari 30 bungkus takjil kepada para pengguna jalan yang melintas.  Takjil yang dibagikan berisi kurma, es kuwut, dan tahu bakso, menu sederhana namun penuh kehangatan. Aksi ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi wujud kepedulian dalam memuliakan bulan Ramadan. Tak heran, kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat yang melintas.   Ketua Bidang Hikmah PK IMM Al-Faruqi, Aisyatul Ma’rufah, berharap semangat berbagi tidak hanya berhenti di bulan Ramadan, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selaras dengan salah satu prinsip dasar IMM, yaitu Humanitas, yang menanamkan nilai kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama.   Senada dengan itu, Ketua Umum PK IMM ...

Literasi: Bakat Minat Ataukah Budaya Masyarakat?

Ilustrasi literasi (Pinterest)  Definisi dari literasi bukan hanya sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks kontemporer, literasi dipandang sebagai sebuah kemampuan untuk memahami, menginterpretasi, dan juga berinteraksi secara kritis dengan berbagai bentuk informasi dan wacana yang ada di sekitar kita. Di Indonesia, tingkat literasi masih menjadi tantangan besar. Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam kemampuan membaca dibandingkan negara-negara lain. Pada tahun 2022, skor literasi membaca Indonesia adalah 359 poin, hal ini mengalami penurunan 12 skor dari tahun 2018. Sehingga kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar, “Apakah rendahnya tingkat literasi dipengaruhi oleh faktor bakat dan minat individual ataukah disebabkan oleh budaya masyarakat yang belum mendukung?” Tulisan ini berpendapat bahwa literasi adalah hasil dari interaksi kompleks antara bakat minat individual dan juga budaya masyar...