Apa cita-cita kalian waktu kecil? Astronaut, penyanyi, presiden? Sekarang, sekadar “hidup normal” terasa makin sulit: harga barang naik, biaya hidup menekan, dan lapangan kerja makin sempit. Di samping itu, media sosial menyebarkan informasi dengan kecepatan kilat, bukan sedikit yang berguna, tapi banyak juga yang keliru, sehingga kita sering lebih bingung daripada tercerahkan.
Kesalahan besar kita adalah memandang
masalah sebagai potongan-potongan terpisah. Padahal, banyak isu sebenarnya
saling tersambung: teknologi, ekonomi, lingkungan, sosial, dan geopolitik
membentuk satu jaring masalah. Para ahli menyebutnya polikrisis yakni tumpukan
krisis yang saling memperparah. Contohnya: AI generatif yang awalnya dilihat
membuka peluang, ternyata bisa menggeser tenaga kerja dan memicu PHK massal; di
sisi lain, operasi dan infrastruktur teknologi itu juga memberi jejak karbon
yang besar. Semua efek itu saling berantai, mulai dari pengangguran ke
ketegangan sosial, dari transisi energi ke eksploitasi tambang, hingga
kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial.
Ambil contoh konkret seperti AI generatif
disebut-sebut menggantikan pekerjaan dan memicu pemecatan besar-besaran, angka
yang disebut mencapai puluhan ribu sejak 2023. Selain itu, ada gambaran bahwa
emisi dari satu aplikasi AI dalam sebulan setara ratusan penerbangan
Jakarta–Tokyo; gambaran ini membantu kita melihat dampak lingkungan yang tak
kasat mata dari teknologi digital. Ketika kita kemudian mendorong transisi ke
kendaraan listrik tanpa pengawasan yang baik, akibatnya bisa muncul eksploitasi
tambang nikel dan tekanan pada hutan serta komunitas adat. Itu salah satu
contoh bagaimana satu kebijakan atau inovasi memicu banyak masalah lain.
Tapi, polikrisis tidak harus membuat kita
pasrah. Ada banyak inisiatif kecil yang menunjukkan cara lain menghadapi
kompleksitas ini. Seperti; proyek study-tour yang Alia realisasikan karena maraknya
pelarangan study tour sehingga makin mempersempit kesempatan murid belajar
diluar kelas, yang dimana proyek ini bukan sekadar jalan-jalan: murid
dilibatkan merancang perjalanan dan mengenali masalah kota mereka sendiri, yang
bisa diamati dari perumahan hingga sampah, lalu menyusun rekomendasi yang
bermakna. Ide sederhana ini memperlihatkan bagaimana pendidikan bisa
menumbuhkan kesadaran sosial dan berpotensi jadi masukan kebijakan.
Lalu ada proyek yang Dinda realisasikan
sebagai “nongkrong plus” yakni nongkrong yang tetap seru tapi produktif: proyek
ini sudah terlaksana sebelumnya dimana agendanya nongkrong dengan “nukang”
(membuat) bersama. Model ini menantang budaya konsumtif yang sering mendasari
gaya hidup kita; sebaliknya, ia menumbuhkan kemampuan produksi dan apresiasi
terhadap kerja tangan. Dari pertemanan kecil bisa tumbuh perubahan budaya
konsumsi yang lebih sehat.
Isu rumah tangga yang juga dibahas dalam
video: ternyata kontribusi sampah rumah tangga sangat besar. Dari situ lahirlah
konsep “Sekolah Rumah Lestari” yaitu program yang membekali pasangan muda dan
keluarga dengan keterampilan hidup ramah lingkungan, sehingga perubahan bermula
dari unit keluarga. Bayangkan jika banyak keluarga melakukan pengurangan sampah
dan pola konsumsi baru; dampaknya ke lingkungan dan komunitas bakal terasa
nyata.
Pada akhirnya, menghadapi polikrisis bukan
soal menunggu solusi tunggal besar, melainkan mengumpulkan langkah-langkah
kecil, berulang, dan terkoordinasi. Imajinasi dan aksi sederhana; seperti
study-tour yang bermakna, nongkrong yang produktif, atau pelatihan rumah
lestari yang bisa disatukan jadi strategi yang lebih besar. Kalau energi anak
muda disatukan, gunung masalah yang terlihat tak terurai itu bisa mulai diurai
dari benang-benang kecil.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan “bisakah
hidup kembali normal?” Melainkan: seperti apa normal yang kita mau bangun
sekarang? Normal lama mungkin memang sudah tak relevan. Waktunya meredefinisi
normal dengan peran ganda sebagai pelajar atau pekerja sekaligus warga yang
aktif, dan mulai bertindak dari lingkar kecil kita. Kumpul, berdiskusi,
bereksperimen, dan bawa hasilnya ke ruang publik. Karena perubahan besar sering
lahir dari keberanian kecil yang konsisten.
Link Referensi: https://youtu.be/dPKWwJvYXkU?si=r5qVuHH_8LmecvEx
Penulis : Aisyatul Ma'rufah

Komentar
Posting Komentar