Langsung ke konten utama

Ministry of The Future: Satu Kesalahan Terbesar dalam Melihat Masalah Dunia

*Semua informasi dalam narasi ini berasal dari video YouTube channel "Kok Bisa?" dengan judul video "Satu Kesalahan Terbesar Dalam Melihat Masalah Dunia".

Apa cita-cita kalian waktu kecil? Astronaut, penyanyi, presiden? Sekarang, sekadar “hidup normal” terasa makin sulit: harga barang naik, biaya hidup menekan, dan lapangan kerja makin sempit. Di samping itu, media sosial menyebarkan informasi dengan kecepatan kilat, bukan sedikit yang berguna, tapi banyak juga yang keliru, sehingga kita sering lebih bingung daripada tercerahkan.

Kesalahan besar kita adalah memandang masalah sebagai potongan-potongan terpisah. Padahal, banyak isu sebenarnya saling tersambung: teknologi, ekonomi, lingkungan, sosial, dan geopolitik membentuk satu jaring masalah. Para ahli menyebutnya polikrisis yakni tumpukan krisis yang saling memperparah. Contohnya: AI generatif yang awalnya dilihat membuka peluang, ternyata bisa menggeser tenaga kerja dan memicu PHK massal; di sisi lain, operasi dan infrastruktur teknologi itu juga memberi jejak karbon yang besar. Semua efek itu saling berantai, mulai dari pengangguran ke ketegangan sosial, dari transisi energi ke eksploitasi tambang, hingga kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial.

Ambil contoh konkret seperti AI generatif disebut-sebut menggantikan pekerjaan dan memicu pemecatan besar-besaran, angka yang disebut mencapai puluhan ribu sejak 2023. Selain itu, ada gambaran bahwa emisi dari satu aplikasi AI dalam sebulan setara ratusan penerbangan Jakarta–Tokyo; gambaran ini membantu kita melihat dampak lingkungan yang tak kasat mata dari teknologi digital. Ketika kita kemudian mendorong transisi ke kendaraan listrik tanpa pengawasan yang baik, akibatnya bisa muncul eksploitasi tambang nikel dan tekanan pada hutan serta komunitas adat. Itu salah satu contoh bagaimana satu kebijakan atau inovasi memicu banyak masalah lain.

Tapi, polikrisis tidak harus membuat kita pasrah. Ada banyak inisiatif kecil yang menunjukkan cara lain menghadapi kompleksitas ini. Seperti; proyek study-tour yang Alia realisasikan karena maraknya pelarangan study tour sehingga makin mempersempit kesempatan murid belajar diluar kelas, yang dimana proyek ini bukan sekadar jalan-jalan: murid dilibatkan merancang perjalanan dan mengenali masalah kota mereka sendiri, yang bisa diamati dari perumahan hingga sampah, lalu menyusun rekomendasi yang bermakna. Ide sederhana ini memperlihatkan bagaimana pendidikan bisa menumbuhkan kesadaran sosial dan berpotensi jadi masukan kebijakan.

Lalu ada proyek yang Dinda realisasikan sebagai “nongkrong plus” yakni nongkrong yang tetap seru tapi produktif: proyek ini sudah terlaksana sebelumnya dimana agendanya nongkrong dengan “nukang” (membuat) bersama. Model ini menantang budaya konsumtif yang sering mendasari gaya hidup kita; sebaliknya, ia menumbuhkan kemampuan produksi dan apresiasi terhadap kerja tangan. Dari pertemanan kecil bisa tumbuh perubahan budaya konsumsi yang lebih sehat.

Isu rumah tangga yang juga dibahas dalam video: ternyata kontribusi sampah rumah tangga sangat besar. Dari situ lahirlah konsep “Sekolah Rumah Lestari” yaitu program yang membekali pasangan muda dan keluarga dengan keterampilan hidup ramah lingkungan, sehingga perubahan bermula dari unit keluarga. Bayangkan jika banyak keluarga melakukan pengurangan sampah dan pola konsumsi baru; dampaknya ke lingkungan dan komunitas bakal terasa nyata.

Pada akhirnya, menghadapi polikrisis bukan soal menunggu solusi tunggal besar, melainkan mengumpulkan langkah-langkah kecil, berulang, dan terkoordinasi. Imajinasi dan aksi sederhana; seperti study-tour yang bermakna, nongkrong yang produktif, atau pelatihan rumah lestari yang bisa disatukan jadi strategi yang lebih besar. Kalau energi anak muda disatukan, gunung masalah yang terlihat tak terurai itu bisa mulai diurai dari benang-benang kecil.

Jadi, mungkin pertanyaannya bukan “bisakah hidup kembali normal?” Melainkan: seperti apa normal yang kita mau bangun sekarang? Normal lama mungkin memang sudah tak relevan. Waktunya meredefinisi normal dengan peran ganda sebagai pelajar atau pekerja sekaligus warga yang aktif, dan mulai bertindak dari lingkar kecil kita. Kumpul, berdiskusi, bereksperimen, dan bawa hasilnya ke ruang publik. Karena perubahan besar sering lahir dari keberanian kecil yang konsisten. 


Link Referensi: https://youtu.be/dPKWwJvYXkU?si=r5qVuHH_8LmecvEx 

Penulis : Aisyatul Ma'rufah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno: Perempuan Muhammadiyah Penegak Kemanusiaan

Sumber: http://kupipedia.id/ Hai, sobat Al-Faruqi! Tahukah kalian tentang sosok pembela martabat perempuan yang berjasa besar dalam perjuangan Muhammadiyah dan Aisyiyah? Yuk, kita berkenalan dengan Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, tokoh masyarakat yang menginspirasi kita semua! Berdasarkan buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi (Lasa Hs., Widyastuti, Imron Nasri, dkk., hal. 276–278), Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan berpengaruh dalam sejarah Aisyiyah dan Muhammadiyah. Ia memimpin Aisyiyah selama dua periode (2000–2010) dan dikenal dengan gagasannya yang mendalam tentang posisi perempuan dalam Islam dan masyarakat. Sosok Intelektual dan Pemimpin Perempuan Muhammadiyah Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno lahir di Kauman, Yogyakarta, 24 Januari 1941. Ia berasal dari keluarga Muhammadiyah yang kuat dalam tradisi dakwah dan pendidikan. Chamamah adalah anak kedua dari empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga santri. Ayahnya, KH. Hamad ...

Jual Agama

  Created by Gemini AI Saya gemas. Kok bisa-bisanya kita ini begitu mudah termakan narasi kiai jualan agama. Hanya karena lihat kiai pakai mobil bagus, atau pegang iPhone, langsung jari-jari netizen "gatal" membuat status hujatan. Seolah-olah, kalau sudah jadi kiai, ya harus menderita. Harus melarat. Tidak boleh punya iPhone. Tidak boleh naik Alphard. Itu pikiran kuno. Jadul. Mari kita lihat Ustadz Abdul Somad (UAS). Orang ribut soal pilihan politiknya. Ia mendukung seorang calon yang tidak lebih masyhur dari petahana di Riau waktu itu. Jadi. Berkat UAS Effect. Kemudian beliau diframing: UAS jual agama demi politik. Padahal? Beliau itu meliburkan jadwal ceramahnya tiga bulan penuh. Anda tahu berapa nilai materi yang beliau relakan? Miliaran. Semua itu dikurbankan demi kontrak politik: minta dibangunkan Islamic Center, beasiswa santri, dan empat belas perjanjian politik lainnya. Tanpa minta bayaran sepeser pun. Mana ada politisi atau konsultan yang mau kerja gratisan tiga bula...

Merdeka atau Mati (?)

Spirit revolusi dalam genggaman | Created with Canva Hari ini, Indonesia genap berusia 80 tahun. Tidak lagi muda. Sebuah usia yang sudah cukup matang untuk ukuran sebuah negara. Namun, sebuah pertanyaan selalu bergaung di lubuk hati: sudahkah kita benar-benar merdeka atau sudah hampir mati? Pernah pada tahun 1945, para pemuda kita berteriak lantang: “Merdeka atau Mati!” Pekikan itu adalah pilihan yang tegas: berjuang sampai titik darah penghabisan atau tetap hidup dalam penjajahan. Tidak ada jalan tengah. Tidak ada kompromi. Semalam penulis menyimak pidato Presiden di Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). “Tingkat pengangguran paling rendah,” katanya. Semoga saja benar. Benar-benar salah. Faktanya, data yang dihimpun dari banyak sumber mengatakan bahwa pengangguran di Konoha masih tinggi, berbeda dengan yang diungkap Budan Pusat Statistik (BPS). Terasa ironis. Janji membuka 19 juta lowongan kerja, nyatanya tidak ada bukti nyata. “Satu laki-laki tersakiti, 19 juta lainny...