Langsung ke konten utama

Museum Date Al-Faruqi: Belajar Sejarah, Merefleksi Gerak Sosial

Dokumen pribadi

Ahad, 2 November 2025 — Museum Perjuangan Mandala Bhakti, Kota Semarang

Pada Ahad pagi, 2 November 2025, kader PK IMM Al-Faruqi melangkah bersama menuju Museum Perjuangan Mandala Bhakti, Semarang. Kegiatan ini adalah bagian dari kolaborasi bidang SBO dan bidang Hikmah, menjadikannya bukan sekadar kunjungan museum, tetapi sebuah ruang belajar yang memadukan sudut pandang budaya, sejarah, dan sosial-politik.

Kegiatan ini diberi nama Museum Date Al-Faruqi, dengan kontribusi tiket sebesar Rp 5.000 per orang. Meski sederhana, acara ini menjadi wadah untuk mengambil jeda dari rutinitas, sekaligus memperluas cakrawala sejarah bagi para kader.

Belajar Sejarah Lewat Jejak Perjuangan
Museum Mandala Bhakti menyimpan berbagai dokumentasi perjuangan rakyat Semarang dan Jawa Tengah. Mulai dari kisah perlawanan lokal, tokoh-tokoh militer, foto arsip era kolonial, hingga artefak-artefak yang menggambarkan dinamika masyarakat saat masa perjuangan. Beberapa diorama juga menampilkan suasana masa perang dan strategi pertahanan rakyat, membuat peserta merasa seolah diajak kembali ke masa itu.
Meski tidak seluruh ruang dipelajari secara rinci, peserta mendapat gambaran bagaimana sejarah daerah selalu berkaitan dengan dinamika politik dan kebijakan, sesuatu yang sangat relevan dengan kajian bidang Hikmah.

Kolaborasi SBO × Hikmah: Menghubungkan Budaya dan Kesadaran Sosial
Dari perspektif SBO, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk melihat langsung karya visual sejarah, simbol-simbol perjuangan, serta nilai budaya yang melekat pada perjalanan masyarakat Semarang. Ada banyak hal yang tidak bisa digantikan oleh buku—ruang museum memberi suasana yang lebih hidup dan kontekstual.

Sementara dari perspektif Hikmah, museum menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana perjuangan rakyat di masa lalu membentuk arah kebijakan dan sistem sosial hari ini. Isi museum bukan hanya benda lama, tetapi penanda bahwa setiap perubahan besar bangsa selalu melibatkan dinamika politik, keputusan publik, dan suara rakyat.

Kader Belajar dengan Cara yang Lebih Dekat dengan Realita
Kunjungan ini juga menjadi pengingat bahwa kader IMM, khususnya dari fakultas pendidikan, perlu memahami sejarah dan konteks sosial sebagai bekal menjadi pendidik. Dari artefak hingga catatan perjuangan, banyak pelajaran tentang nilai keberanian, keteguhan, serta perjuangan melawan ketidakadilan. Walau kunjungan berlangsung singkat, suasana kebersamaan dan diskusi ringan antar-kader membuat Museum Date ini terasa hangat.

Museum Date Al-Faruqi menjadi kegiatan yang sederhana namun bermakna. Tidak hanya menambah pengetahuan sejarah, tetapi juga memperkuat hubungan antarbidang dalam tubuh organisasi. Kolaborasi SBO dan Hikmah terbukti menghadirkan perspektif yang saling melengkapi: bahwa budaya mengajarkan kita identitas, dan kebijakan mengajarkan kita arah masa depan.
Semoga kegiatan ini menjadi pijakan bagi gerakan-gerakan keilmuan berikutnya—lebih kritis, lebih peduli, dan tentu saja lebih membumi.

Penulis : Aisyatul Ma'rufah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMM UIN Walisongo Rayakan Milad ke-61: Momentum Refleksi dan Komitmen Organisasi

doc. pribadi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Walisongo Semarang memperingati Milad ke-61 dengan menggelar potong tumpeng di Masjid At-Taqwa, Wates, pada Kamis, 13 Maret 2025. Acara ini menjadi momentum penting bagi para kader IMM untuk melakukan refleksi, evaluasi capaian, serta berkomitmen meningkatkan kualitas organisasi. Para kader IMM mengawali rangkaian acara dengan buka puasa bersama, menikmati aneka takjil dan hidangan soto yang telah disiapkan oleh pengurus Masjid At-Taqwa. Usai berbuka, mereka melaksanakan salat Magrib berjamaah di masjid tersebut. Peringatan Milad IMM ke-61 kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Suprapto, alumni IMM UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutannya, beliau berbagi pengalaman berharga semasa menjadi kader IMM ketika masih berkuliah. Suprapto juga menekankan pentingnya merawat dan terus meningkatkan kualitas organisasi. “Hidup-hidupilah IMM dan carilah pasangan hidup di IMM,”  ujar beliau, yang sontak mengundang tawa dan antusiasme...

PK IMM Al-Faruqi Tebar Kebaikan di Jalan dengan Bataro

doc. medkom al-faruqi Bidang Hikmah dan TKK Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Al-Faruqi menggelar aksi sosial bertajuk Bataro (Bagi-bagi Takjil On The Road) hari Sabtu, 8 Maret 2025. Berlokasi di jalan pertigaan arah Beringin, mereka membagikan lebih dari 30 bungkus takjil kepada para pengguna jalan yang melintas.  Takjil yang dibagikan berisi kurma, es kuwut, dan tahu bakso, menu sederhana namun penuh kehangatan. Aksi ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi wujud kepedulian dalam memuliakan bulan Ramadan. Tak heran, kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat yang melintas.   Ketua Bidang Hikmah PK IMM Al-Faruqi, Aisyatul Ma’rufah, berharap semangat berbagi tidak hanya berhenti di bulan Ramadan, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selaras dengan salah satu prinsip dasar IMM, yaitu Humanitas, yang menanamkan nilai kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama.   Senada dengan itu, Ketua Umum PK IMM ...

Literasi: Bakat Minat Ataukah Budaya Masyarakat?

Ilustrasi literasi (Pinterest)  Definisi dari literasi bukan hanya sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks kontemporer, literasi dipandang sebagai sebuah kemampuan untuk memahami, menginterpretasi, dan juga berinteraksi secara kritis dengan berbagai bentuk informasi dan wacana yang ada di sekitar kita. Di Indonesia, tingkat literasi masih menjadi tantangan besar. Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam kemampuan membaca dibandingkan negara-negara lain. Pada tahun 2022, skor literasi membaca Indonesia adalah 359 poin, hal ini mengalami penurunan 12 skor dari tahun 2018. Sehingga kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar, “Apakah rendahnya tingkat literasi dipengaruhi oleh faktor bakat dan minat individual ataukah disebabkan oleh budaya masyarakat yang belum mendukung?” Tulisan ini berpendapat bahwa literasi adalah hasil dari interaksi kompleks antara bakat minat individual dan juga budaya masyar...