Langsung ke konten utama

Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno: Perempuan Muhammadiyah Penegak Kemanusiaan

Hai, sobat Al-Faruqi! Tahukah kalian tentang sosok pembela martabat perempuan yang berjasa besar dalam perjuangan Muhammadiyah dan Aisyiyah? Yuk, kita berkenalan dengan Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, tokoh masyarakat yang menginspirasi kita semua!

Berdasarkan buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi (Lasa Hs., Widyastuti, Imron Nasri, dkk., hal. 276–278), Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan berpengaruh dalam sejarah Aisyiyah dan Muhammadiyah. Ia memimpin Aisyiyah selama dua periode (2000–2010) dan dikenal dengan gagasannya yang mendalam tentang posisi perempuan dalam Islam dan masyarakat.

Sosok Intelektual dan Pemimpin Perempuan Muhammadiyah

Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno lahir di Kauman, Yogyakarta, 24 Januari 1941. Ia berasal dari keluarga Muhammadiyah yang kuat dalam tradisi dakwah dan pendidikan. Chamamah adalah anak kedua dari empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga santri. Ayahnya, KH. Hamad Noor, adalah seorang ulama dan pendidik di berbagai perguruan tinggi Indonesia. Sementara ibunda Chamamah, Nyai Hj. Juhariah binti Kiai Mubarrok, adalah seorang pengusaha batik sekaligus mubalighah di Yogyakarta.

Pendidikan formal Chamamah dimulai dari Taman Kanak-Kanak Bustanul Atfal Aisyiyah Yogyakarta, SD Muhammadiyah Ngupasan, SMP Putri Muhammadiyah Yogyakarta, dan Sekolah Menengah Atas Agama Yogyakarta yang didirikan oleh ayahnya.

Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, Chamamah resmi menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada pada tahun 1959 di jurusan Sastra Timur dan lulus pada tahun 1967. Kemudian ia menempuh S2 di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris, Prancis, dengan fokus pendidikan Bahasa Prancis dan Bahasa Arab (1975–1977). Selain itu, ia pernah mengikuti pendidikan Bahasa Belanda di Leiden (1983–1984), pendidikan penelitian di Belanda (1983–1985, 1987–1989), pendidikan penelitian di Jerman (1987–1989), dan pendidikan penelitian di London, Inggris (1984–1988).

Putri Kauman yang meraih gelar doktor dari Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM pada tahun 1988 ini adalah seorang akademisi, budayawan, dan aktivis perempuan Muhammadiyah yang berkiprah luas di dunia pendidikan dan sosial. Selain menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), sebagai ilmuwan ia juga pernah mengajar di UIN Sunan Kalijaga, UNY, IAIN (sekarang UIN) Walisongo, Universitas Malaya, dan Universitas Kebangsaan Malaysia.

Pada tahun 1965, Chamamah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah ketika periode awal kemandirian organisatoris remaja putri Muhammadiyah. Hingga akhirnya Chamamah diamanahi menjadi pengurus Pimpinan Pusat Aisyiyah (1968), mulai dari menjadi bendahara, sekretaris, hingga wakil ketua. Setelah itu, Chamamah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah periode 2000–2010.

Pada masa kepemimpinannya, beliau memperkuat visi Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam yang berkemajuan dengan menekankan pemberdayaan perempuan, pendidikan keluarga, dan penguatan peran perempuan dalam masyarakat. Saat ini Chamamah masih aktif dalam organisasi Aisyiyah untuk tetap menjalin silaturahmi, berdiskusi, dan berbagi pandangan dengan masyarakat luas tentang kehidupan.

"Gerakan Perempuan Muhammadiyah Bukan Menyaingi, Tapi Melengkapi"

Salah satu pernyataan terkenalnya adalah:

"Gerakan perempuan Muhammadiyah bukan gerakan menyaingi laki-laki, tetapi melengkapi untuk menegakkan kemanusiaan."

Ungkapan ini mengandung filosofi dakwah yang mendalam: bahwa perempuan dalam Islam bukanlah pihak kedua atau pesaing laki-laki, melainkan mitra sejajar dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberadaban.

Pandangan ini selaras dengan spirit Islam berkemajuan yang menjadi dasar gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah, bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab dalam amar ma'ruf nahi munkar.

Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno pernah menyampaikan dalam acara Muktamar Muhammadiyah Aisyiyah ke-48 bahwa amar ma'ruf nahi munkar yang menjadi tugas Muhammadiyah untuk menuju umat terbaik (khairu ummah) tidak hanya mengundang laki-laki saja, tetapi juga perempuan.

Selain itu, dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan berpotensi sama untuk berkembang. QS. An-Nahl ayat 97 menyebutkan bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk membentuk kehidupan yang baik:

"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

Keteladanan Bagi Kaum Perempuan

Sosok Prof. Dr. Chamamah Soeratno adalah teladan keilmuan, kepemimpinan, dan keberanian berpikir. Pemahaman dan pemikiran Chamamah tentang keberadaan manusia dalam jenis kelamin (perempuan dan laki-laki yang kemudian dikenal dengan istilah gender) telah ia peroleh melalui pembentukan karakter pribadinya dalam keluarga, dengan pendidikan informal, nonformal, dan formal. Konsep tentang gender, menurut Chamamah, didasarkan pada Al-Qur'an, hadis, dan pemikiran yang terus berkembang sampai saat ini.

Posisi perempuan dalam Persyarikatan tidak berbeda dengan posisi laki-laki, yaitu sama-sama mengemban misi rahmatan lil-'alamin melalui corak tajdid. Pergerakan Muhammadiyah memahami konteks zaman dalam memberikan jawaban dan solusi sehingga akan berlangsung terus-menerus karena mengikuti apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Chamamah mencontohkan bahwa menjadi perempuan berkemajuan berarti berilmu, berakhlak, dan berperan nyata dalam masyarakat. Beliau mengajarkan bahwa perjuangan perempuan Muhammadiyah bukan soal posisi, tetapi kontribusi dan pengabdian untuk kemanusiaan.

Warisan Pemikiran dan Spirit Perjuangan

Sebagai intelektual, Prof. Chamamah turut menulis berbagai karya ilmiah dan aktif dalam kegiatan kebudayaan serta pendidikan Islam. Warisan pemikirannya menegaskan pentingnya kolaborasi antara ilmu dan iman.

Chamamah banyak menuliskan karya penting sebagai fondasi kajian sastra dan filologi, di antaranya:

  • Kharisma Tokoh Indonesia Lama dan Masalah-Masalahnya (1981)
  • Pengantar Teori Filologi (1985)
  • Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis Resepsi (1991)
  • Variasi Sebagai Bentuk Kreatifitas Pengarang Kedua dalam Dunia Sastra Melayu Hikayat Banjar (1994)
  • Khasanah Budaya Kraton Yogyakarta II (2001)
  • Penelitian Sastra: Tinjauan Teori dan Metode (2001)

Itulah gambaran perjuangan Prof. Dr. Siti Chamamah sebagai perempuan Muhammadiyah penegak kemanusiaan. Beliau menjadi contoh nyata bahwa perempuan Muhammadiyah dapat menjadi ilmuwan, pemimpin, tokoh intelektual, pendidik, aktivis, pejuang perdamaian, dan pembela martabat perempuan sekaligus penggerak dakwah yang lembut namun tegas.

Referensi

  1. Lasa Hs., Widyastuti, Imron Nasri, dkk. 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi. Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, 2019. Hal. 276–278.
  2. Website resmi Muhammadiyah: https://muhammadiyah.or.id
  3. Pedoman Pendidikan AIK — Pedoman Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Universitas Muhammadiyah Malang, 2016.
  4. https://www.kupipedia.id/index.php/Chamamah_Soeratno
  5. https://rahma.id/siti-chamamah-soeratno-akar-historis-perempuan-berkemajuan/
  6. https://web.suaramuhammadiyah.id/2022/04/14/akar-historis-perempuan-berkemajuan/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMM UIN Walisongo Rayakan Milad ke-61: Momentum Refleksi dan Komitmen Organisasi

doc. pribadi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Walisongo Semarang memperingati Milad ke-61 dengan menggelar potong tumpeng di Masjid At-Taqwa, Wates, pada Kamis, 13 Maret 2025. Acara ini menjadi momentum penting bagi para kader IMM untuk melakukan refleksi, evaluasi capaian, serta berkomitmen meningkatkan kualitas organisasi. Para kader IMM mengawali rangkaian acara dengan buka puasa bersama, menikmati aneka takjil dan hidangan soto yang telah disiapkan oleh pengurus Masjid At-Taqwa. Usai berbuka, mereka melaksanakan salat Magrib berjamaah di masjid tersebut. Peringatan Milad IMM ke-61 kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Suprapto, alumni IMM UIN Walisongo Semarang. Dalam sambutannya, beliau berbagi pengalaman berharga semasa menjadi kader IMM ketika masih berkuliah. Suprapto juga menekankan pentingnya merawat dan terus meningkatkan kualitas organisasi. “Hidup-hidupilah IMM dan carilah pasangan hidup di IMM,”  ujar beliau, yang sontak mengundang tawa dan antusiasme...

PK IMM Al-Faruqi Tebar Kebaikan di Jalan dengan Bataro

doc. medkom al-faruqi Bidang Hikmah dan TKK Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Al-Faruqi menggelar aksi sosial bertajuk Bataro (Bagi-bagi Takjil On The Road) hari Sabtu, 8 Maret 2025. Berlokasi di jalan pertigaan arah Beringin, mereka membagikan lebih dari 30 bungkus takjil kepada para pengguna jalan yang melintas.  Takjil yang dibagikan berisi kurma, es kuwut, dan tahu bakso, menu sederhana namun penuh kehangatan. Aksi ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga menjadi wujud kepedulian dalam memuliakan bulan Ramadan. Tak heran, kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat yang melintas.   Ketua Bidang Hikmah PK IMM Al-Faruqi, Aisyatul Ma’rufah, berharap semangat berbagi tidak hanya berhenti di bulan Ramadan, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selaras dengan salah satu prinsip dasar IMM, yaitu Humanitas, yang menanamkan nilai kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama.   Senada dengan itu, Ketua Umum PK IMM ...

Literasi: Bakat Minat Ataukah Budaya Masyarakat?

Ilustrasi literasi (Pinterest)  Definisi dari literasi bukan hanya sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks kontemporer, literasi dipandang sebagai sebuah kemampuan untuk memahami, menginterpretasi, dan juga berinteraksi secara kritis dengan berbagai bentuk informasi dan wacana yang ada di sekitar kita. Di Indonesia, tingkat literasi masih menjadi tantangan besar. Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam kemampuan membaca dibandingkan negara-negara lain. Pada tahun 2022, skor literasi membaca Indonesia adalah 359 poin, hal ini mengalami penurunan 12 skor dari tahun 2018. Sehingga kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar, “Apakah rendahnya tingkat literasi dipengaruhi oleh faktor bakat dan minat individual ataukah disebabkan oleh budaya masyarakat yang belum mendukung?” Tulisan ini berpendapat bahwa literasi adalah hasil dari interaksi kompleks antara bakat minat individual dan juga budaya masyar...