Langsung ke konten utama

Jual Agama

 Created by Gemini AI

Saya gemas. Kok bisa-bisanya kita ini begitu mudah termakan narasi kiai jualan agama. Hanya karena lihat kiai pakai mobil bagus, atau pegang iPhone, langsung jari-jari netizen "gatal" membuat status hujatan. Seolah-olah, kalau sudah jadi kiai, ya harus menderita. Harus melarat. Tidak boleh punya iPhone. Tidak boleh naik Alphard.

Itu pikiran kuno. Jadul.

Mari kita lihat Ustadz Abdul Somad (UAS). Orang ribut soal pilihan politiknya. Ia mendukung seorang calon yang tidak lebih masyhur dari petahana di Riau waktu itu. Jadi. Berkat UAS Effect. Kemudian beliau diframing: UAS jual agama demi politik. Padahal? Beliau itu meliburkan jadwal ceramahnya tiga bulan penuh. Anda tahu berapa nilai materi yang beliau relakan? Miliaran. Semua itu dikurbankan demi kontrak politik: minta dibangunkan Islamic Center, beasiswa santri, dan empat belas perjanjian politik lainnya. Tanpa minta bayaran sepeser pun.

Mana ada politisi atau konsultan yang mau kerja gratisan tiga bulan? UAS mau. Tapi ya itu, narasi pengorbanan begini mana laku di TikTok.

Lalu soal amplop.

Habib Ja’far pernah menyentil kita dengan telak. Beliau pernah menjadi guru ngaji supaya tahu jalan ke surga, upahnya tidak seberapa. Tapi, ada orang kaya yang panggil pelatih anjing untuk hewan piaraannya, bayarannya jutaan.

Gila tidak? Kita lebih mahal menghargai urusan anjing daripada urusan iman.

Ustadz Nuruddin juga punya cerita yang bikin ngelus dada. Pernah diundang ke perumahan paling mewah di Jakarta. Mewah sekali. Perjalanan macet-macetan total tujuh jam. Begitu selesai ceramah, apa yang beliau terima? Amplop? Bukan. Hanya kotak nasi.

Tapi sebaliknya, kalau beliau dapat honor besar, beliau belikan iPhone terbaru. Untuk apa? Bukan gaya-gayaan. Tapi agar kualitas rekaman dakwah di YouTube bagus. Supaya orang enak menonton pengajian. Eh, tapi ya itu tadi, kalau netizen lihat kiai pegang iPhone, langsung dicap "hubbud dunya" (cinta dunia).

Saya jadi teringat pesan beliau itu: “Diamnya orang bodoh adalah kontribusi yang paling nyata.”

Logika Nuruddin ini yang saya suka: yang dihargai itu bukan ayatnya. Ayat Tuhan itu tidak ada harganya. Tidak terbeli. Yang kita bayar itu adalah waktunya. Ilmunya. Tenaganya. Waktu sang kiai yang seharusnya bisa buat baca buku atau bercengkerama dengan anak-istri, tapi malah dipakai untuk mengurusi kita yang kurang ilmu ini. Atau pernahkah kita berpikir, sejauh mana para kiai itu berkurban untuk mencari ilmu. Pasti sangat melelahkan. Penuh cobaan. Tidak cukup hanya satu atau dua bulan.

Kalau kita terus-terusan memaksa kiai harus miskin, jangan kaget kalau masa depan manusia menjadi suram. Anak-anak pintar tidak akan mau jadi ustadz. Mereka akan pilih jadi streamer atau joget-joget di medsos. Lebih jelas cuannya.

Kalau itu terjadi, siapa yang rugi? Ya kita juga. Akhlak manusia akan terperosok kedalam jurang. Dekadensi moral akan nampak di depan mata.

Jadi, berhentilah jadi hakim atas keikhlasan orang. Framing "jualan agama" itu sering kali cuma kedok untuk menjatuhkan wibawa guru-guru kita. Jangan sampai kita jadi bangsa yang lebih menghargai pelatih hewan daripada pendidik jiwa.

Begitulah.

Penulis: Lukman Al-Hakim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno: Perempuan Muhammadiyah Penegak Kemanusiaan

Sumber: http://kupipedia.id/ Hai, sobat Al-Faruqi! Tahukah kalian tentang sosok pembela martabat perempuan yang berjasa besar dalam perjuangan Muhammadiyah dan Aisyiyah? Yuk, kita berkenalan dengan Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, tokoh masyarakat yang menginspirasi kita semua! Berdasarkan buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi (Lasa Hs., Widyastuti, Imron Nasri, dkk., hal. 276–278), Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan berpengaruh dalam sejarah Aisyiyah dan Muhammadiyah. Ia memimpin Aisyiyah selama dua periode (2000–2010) dan dikenal dengan gagasannya yang mendalam tentang posisi perempuan dalam Islam dan masyarakat. Sosok Intelektual dan Pemimpin Perempuan Muhammadiyah Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno lahir di Kauman, Yogyakarta, 24 Januari 1941. Ia berasal dari keluarga Muhammadiyah yang kuat dalam tradisi dakwah dan pendidikan. Chamamah adalah anak kedua dari empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga santri. Ayahnya, KH. Hamad ...

Merdeka atau Mati (?)

Spirit revolusi dalam genggaman | Created with Canva Hari ini, Indonesia genap berusia 80 tahun. Tidak lagi muda. Sebuah usia yang sudah cukup matang untuk ukuran sebuah negara. Namun, sebuah pertanyaan selalu bergaung di lubuk hati: sudahkah kita benar-benar merdeka atau sudah hampir mati? Pernah pada tahun 1945, para pemuda kita berteriak lantang: “Merdeka atau Mati!” Pekikan itu adalah pilihan yang tegas: berjuang sampai titik darah penghabisan atau tetap hidup dalam penjajahan. Tidak ada jalan tengah. Tidak ada kompromi. Semalam penulis menyimak pidato Presiden di Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). “Tingkat pengangguran paling rendah,” katanya. Semoga saja benar. Benar-benar salah. Faktanya, data yang dihimpun dari banyak sumber mengatakan bahwa pengangguran di Konoha masih tinggi, berbeda dengan yang diungkap Budan Pusat Statistik (BPS). Terasa ironis. Janji membuka 19 juta lowongan kerja, nyatanya tidak ada bukti nyata. “Satu laki-laki tersakiti, 19 juta lainny...