Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Jalan Tengah

Source: World Economic Forum (WEF) Sebuah frasa yang pernah dimuat World Economic Forum (WEF) melalui platform media sosial mereka memicu perdebatan. Frasa itu termaktub dalam potongan video yang menampilkan "ramalan" tentang ekonomi dunia pada tahun 2030. Kira-kira bunyi frasa itu seperti ini: "You'll own nothing, and you'll be happy" (Kamu tidak akan memiliki apa pun, dan kamu akan bahagia). Frasa itu dimuat pada tahun 2018. Tujuh tahun yang lalu.  Booming  waktu itu—hingga sekarang. Banyak yang memperdebatkan, mendiskusikan, bahkan menuduh WEF sebagai biang keladi rencana ekonomi yang "bejat" itu. Memang menarik untuk direnungkan. Frasa itu cenderung seperti sesuatu yang direncanakan secara matang. Apalagi yang mempopulerkannya adalah WEF, organisasi ekonomi yang sudah masyhur. Jika ditarik ke belakang, sebenarnya itu adalah esai yang ditulis oleh Ida Auken pada tahun 2016, dua tahun sebelum WEF memuatnya. Menurut klaim WEF, tujuannya adalah unt...

Merdeka atau Mati (?)

Spirit revolusi dalam genggaman | Created with Canva Hari ini, Indonesia genap berusia 80 tahun. Tidak lagi muda. Sebuah usia yang sudah cukup matang untuk ukuran sebuah negara. Namun, sebuah pertanyaan selalu bergaung di lubuk hati: sudahkah kita benar-benar merdeka atau sudah hampir mati? Pernah pada tahun 1945, para pemuda kita berteriak lantang: “Merdeka atau Mati!” Pekikan itu adalah pilihan yang tegas: berjuang sampai titik darah penghabisan atau tetap hidup dalam penjajahan. Tidak ada jalan tengah. Tidak ada kompromi. Semalam penulis menyimak pidato Presiden di Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). “Tingkat pengangguran paling rendah,” katanya. Semoga saja benar. Benar-benar salah. Faktanya, data yang dihimpun dari banyak sumber mengatakan bahwa pengangguran di Konoha masih tinggi, berbeda dengan yang diungkap Budan Pusat Statistik (BPS). Terasa ironis. Janji membuka 19 juta lowongan kerja, nyatanya tidak ada bukti nyata. “Satu laki-laki tersakiti, 19 juta lainny...

Belajar dari Dua Pemimpin Muslim di Jantung Kota Dunia

Picture by The Times  Sadiq Khan, pemimpin Kota London, adalah seorang muslim yang lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Amanuddin Khan, seorang sopir bus di kota metropolitan itu, pernah berpesan, "Kalau orang lain lari, kamu harus terbang!" Sebuah nasihat yang kerap dikenang sang wali kota di hadapan khalayak. Khan adalah keturunan Pakistan. Jumlah warga keturunan Pakistan di London tidak lebih dari 3% populasi. Dengan bekal double minority sebagai muslim dan keturunan Pakistan, ia memberanikan diri maju dalam kontestasi Pemilihan Wali Kota. Lengkap dengan terpaan isu islamofobia, rasisme, dan kampanye hitam yang menyerangnya. Kini ia telah memasuki periode ketiga kepemimpinannya. Berasal dari keluarga sopir bus, Khan kini memegang peran besar dalam menyulap ibu kota Negara Raja Charles itu. Di bawah kepemimpinannya, London semakin maju. Bus-bus kota berubah seperti kendaraan masa depan. 20% di antaranya kini bertenaga listrik. Tidak lagi mengandalkan bensin atau die...