Langsung ke konten utama

IMM PK Al-Faruqi Gelar Bedah Buku "Andai Aku Menteri Pendidikan" Karya Alfian Bahri

 doc. medkom al-faruqi

Semarang, 16 April 2025 — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat Al-Faruqi sukses menggelar kajian bedah buku berjudul “Andai Aku Menteri Pendidikan” karya Alfian Bahri, pada Rabu, 16 April 2025. Acara ini berlangsung di Taman Edupark, Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, dihadiri oleh 15 peserta dari kader IMM UIN Walisongo yang tampak sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan.

Kegiatan ini menghadirkan M. Yusuf Tsaqif As’ad, Sekretaris Umum PC IMM Kota Semarang, sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, Tsaqif membedah berbagai gagasan yang ditawarkan Alfian Bahri terkait sistem pendidikan di Indonesia, serta mengajak peserta untuk berpikir kritis mengenai realitas dan tantangan pendidikan nasional saat ini.

Kajian ini digelar sebagai bentuk upaya menambah wawasan dan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pendidikan yang ideal dan humanis di Indonesia.

Acara dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan profil penulis dan pemateri, penyampaian materi, sesi tanya jawab, dan ditutup dengan penutup yang sarat makna. Menjelang akhir acara, M. Yusuf Tsaqif As’ad menyampaikan pesan inspiratif: “Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang memanusiakan manusia.”

IMM PK Al-Faruqi berharap kajian seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wadah intelektual dan refleksi kritis mahasiswa terhadap isu-isu kebangsaan, terutama dalam bidang pendidikan.


Penulis: M. Rendy Anggara Saputro

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno: Perempuan Muhammadiyah Penegak Kemanusiaan

Sumber: http://kupipedia.id/ Hai, sobat Al-Faruqi! Tahukah kalian tentang sosok pembela martabat perempuan yang berjasa besar dalam perjuangan Muhammadiyah dan Aisyiyah? Yuk, kita berkenalan dengan Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, tokoh masyarakat yang menginspirasi kita semua! Berdasarkan buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi (Lasa Hs., Widyastuti, Imron Nasri, dkk., hal. 276–278), Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan berpengaruh dalam sejarah Aisyiyah dan Muhammadiyah. Ia memimpin Aisyiyah selama dua periode (2000–2010) dan dikenal dengan gagasannya yang mendalam tentang posisi perempuan dalam Islam dan masyarakat. Sosok Intelektual dan Pemimpin Perempuan Muhammadiyah Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno lahir di Kauman, Yogyakarta, 24 Januari 1941. Ia berasal dari keluarga Muhammadiyah yang kuat dalam tradisi dakwah dan pendidikan. Chamamah adalah anak kedua dari empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga santri. Ayahnya, KH. Hamad ...

Jual Agama

  Created by Gemini AI Saya gemas. Kok bisa-bisanya kita ini begitu mudah termakan narasi kiai jualan agama. Hanya karena lihat kiai pakai mobil bagus, atau pegang iPhone, langsung jari-jari netizen "gatal" membuat status hujatan. Seolah-olah, kalau sudah jadi kiai, ya harus menderita. Harus melarat. Tidak boleh punya iPhone. Tidak boleh naik Alphard. Itu pikiran kuno. Jadul. Mari kita lihat Ustadz Abdul Somad (UAS). Orang ribut soal pilihan politiknya. Ia mendukung seorang calon yang tidak lebih masyhur dari petahana di Riau waktu itu. Jadi. Berkat UAS Effect. Kemudian beliau diframing: UAS jual agama demi politik. Padahal? Beliau itu meliburkan jadwal ceramahnya tiga bulan penuh. Anda tahu berapa nilai materi yang beliau relakan? Miliaran. Semua itu dikurbankan demi kontrak politik: minta dibangunkan Islamic Center, beasiswa santri, dan empat belas perjanjian politik lainnya. Tanpa minta bayaran sepeser pun. Mana ada politisi atau konsultan yang mau kerja gratisan tiga bula...

Merdeka atau Mati (?)

Spirit revolusi dalam genggaman | Created with Canva Hari ini, Indonesia genap berusia 80 tahun. Tidak lagi muda. Sebuah usia yang sudah cukup matang untuk ukuran sebuah negara. Namun, sebuah pertanyaan selalu bergaung di lubuk hati: sudahkah kita benar-benar merdeka atau sudah hampir mati? Pernah pada tahun 1945, para pemuda kita berteriak lantang: “Merdeka atau Mati!” Pekikan itu adalah pilihan yang tegas: berjuang sampai titik darah penghabisan atau tetap hidup dalam penjajahan. Tidak ada jalan tengah. Tidak ada kompromi. Semalam penulis menyimak pidato Presiden di Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). “Tingkat pengangguran paling rendah,” katanya. Semoga saja benar. Benar-benar salah. Faktanya, data yang dihimpun dari banyak sumber mengatakan bahwa pengangguran di Konoha masih tinggi, berbeda dengan yang diungkap Budan Pusat Statistik (BPS). Terasa ironis. Janji membuka 19 juta lowongan kerja, nyatanya tidak ada bukti nyata. “Satu laki-laki tersakiti, 19 juta lainny...